Skip to content

Apa Yang Kita Sombongkan?

Juni 20, 2011

Sombong adalah penyakit
yang sering menghinggapi kita
semua, yang benih-benihnya
terlalu kerap muncul tanpa
kita sadari. Di tingkat
terbawah, sombong
disebabkan oleh faktor
materi. Kita merasa lebih
kaya, lebih rupawan, dan lebih
terhormat daripada orang
lain.
Di tingkat kedua, sombong
disebabkan oleh faktor
kecerdasan. Kita merasa lebih
pintar, lebih kompeten, dan
lebih berwawasan
dibandingkan orang lain.
Di tingkat ketiga, sombong
disebabkan oleh faktor
kebaikan. Kita sering
menganggap diri kita lebih
bermoral, lebih pemurah, dan
lebih tulus dibandingkan
dengan orang lain.
Yang menarik, semakin tinggi
tingkat kesombongan,
semakin sulit pula kita
mendeteksinya. Sombong
karena materi sangat mudah
terlihat, namun sombong
karena pengetahuan, apalagi
sombong karena kebaikan,
sulit terdeteksi karena
seringkali hanya berbentuk
benih-benih halus di dalam
batin kita.
Akar dari kesombongan ini
adalah ego yang berlebihan.
Pada tataran yang lumrah,
ego menampilkan dirinya
dalam bentuk harga diri (self-
esteem) dan kepercayaan diri
(self-confidence). Akan tetapi,
begitu kedua hal ini berubah
menjadi kebanggaan (pride),
Anda sudah berada sangat
dekat dengan kesombongan.
Batas antara bangga dan
sombong tidaklah terlalu
jelas.
Kita sebenarnya terdiri dari
dua kutub, yaitu ego di satu
kutub dan kesadaran sejati di
lain kutub. Pada saat terlahir
ke dunia, kita dalam keadaan
telanjang dan tak punya apa-
apa. Akan tetapi, seiring
dengan waktu, kita mulai
memupuk berbagai keinginan,
lebih dari sekadar yang kita
butuhkan dalam hidup.
Keenam indra kita selalu
mengatakan bahwa kita
memerlukan lebih banyak
lagi.
Perjalanan hidup cenderung
menggiring kita menuju kutub
ego. Ilusi ego inilah yang
memperkenalkan kita kepada
dualisme ketamakan (ekstrem
suka) dan kebencian (ekstrem
tidak suka). Inilah akar dari
segala permasalahan.
Perjuangan melawan
kesombongan merupakan
perjuangan menuju kesadaran
sejati.
Untuk bisa melawan
kesombongan dengan segala
bentuknya, ada dua
perubahan paradigma yang
perlu kita lakukan.
Pertama, kita perlu menyadari
bahwa pada hakikatnya kita
bukanlah makhluk fisik, tetapi
makhluk spiritual. Kesejatian
kita adalah spiritualitas,
sementara tubuh fisik
hanyalah sarana untuk hidup
di dunia. Kita lahir dengan
tangan kosong, dan (ingat!)
kita pun akan mati dengan
tangan kosong.
Pandangan seperti ini akan
membuat kita melihat semua
makhluk dalam kesetaraan
universal. Kita tidak akan lagi
terkelabui oleh penampilan,
label, dan segala“tampak
luar” lainnya. Yang kini kita
lihat adalah “tampak dalam”.
Pandangan seperti ini akan
membantu menjauhkan kita
dari berbagai kesombongan
atau ilusi ego.
Kedua, kita perlu menyadari
bahwa apapun perbuatan baik
yang kita lakukan, semuanya
itu semata-mata adalah juga
demi diri kita sendiri. Kita
memberikan sesuatu kepada
orang lain adalah juga demi
kita sendiri.
Dalam hidup ini berlaku
hukum kekekalan energi.
Energi yang kita berikan
kepada dunia tak akan pernah
musnah. Energi itu akan
kembali kepada kita dalam
bentuk yang lain. Kebaikan
yang kita lakukan pasti akan
kembali kepada kita dalam
bentuk persahabatan, cinta
kasih, makna hidup, maupun
kepuasan batin yang
mendalam. Jadi, setiap
berbuat baik kepada pihak
lain, kita sebenarnya sedang
berbuat baik kepada diri kita
sendiri. Kalau begitu, apa
yang kita sombongkan dan
ngapain juga sombong ?

From → Uncategorized

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: